Suku Sasak merupakan suku yang berada
di daerah Lombok, NTB, bagian timur Indonesia. Suku sasak sendiri
merupakan suku yang kaya dengan adat
–istiadat serta budayanya. Suku yang yang masih mempertahankan keaslian suku
dan adat istiadatnya ini memiliki keunikan tersendiri. Pada umumnya suku Bangsa
Sasak sebagian besarnya penduduk yang beragama Islam tetapi ada juga yang
beragama Hindu, Budha dan sebagian kecil beragama Kriten. Dari sekian banyak
suku bangsa yang ada di Indonesia, suku ini adalah suku salah satu suku yang
daerahnya sering dikunjungi oleh para wisatawan. Sebuah kebanggaan tersendiri serta sebuah amanah
menjadi bagian dari suku Sasak untuk
menjaga dan melestarikan apa yang ada pada suku Sasak, baik itu dari budaya,
adat-istiadat maupun keelokan buminya.
Berbicara tentang adat istiadat dan
kebudayaan serta kearifan lokal Bumi Sasak,
ada sebuah peristiwa yang sangat bersejarah yang terjadi di Bumi Sasak tepatnya
pada 26 Desember 2015, peristiwa ini dilatarbelakangi oleh kondisi kebudayaan Sasak
yang sedikit demi sedikit melenceng
dari yang sebenarnya, serta sejarah Sasak yang diobrak abrik dan di
bolak-balik untuk kepentingan penguasa.
Melihat kondisi yang seperti ini maka muncullah ide dan pemikiran-pemikiran bahwa
sebagai Bangsa Sasak adalah sebuah amanah untuk menjaga dan bertanggung jawab
terhadap kaarifan Bumi Sasak serta dari ide dan pemikiran itu muncul inisisatif
bagaimana memperbaiki serta bagaimana
mengarahkan kebudayaan Sasak pada hal yang
seharusnya. Hal ini tentu tidak bisa di lakukan sepihak saja maka di perlukan
keterlibatan para tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pengemban Gumi Paer serta Majlis Adat Sasak. Hal ini seperti yang di ungkapkan oleh dosen
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia FKIP UNRAM yakni Murahim M.
Pd, saat ditemui di ruang kerjanya “ melihat kondisi kebudayaan gumi Sasak yang
sudah agak melenceng dari arah yang sebenarnya maka kami berinisiatif bagaimana
memperbaikinya kondisi sejarah Sasak
yang sudah di obrak abrik oleh kepentinan penguasa, kebudayaan yang sudah
melenceng dari sejarah yang sebenarnya, bahwa prakti-praktik budaya sekarang
ini jalurnya sudah tidak jelas artinya
nilai-nilai kearifan lokal yang muncul
dari budaya-budaya tersebut hilang
karena tidak sesuai dengan jalannya tidak sesuai dengan koridor yang
digunakan. Jadi kami sebagai di lembaga kebudayaan bangsa Sasak merasa bertanggung jawab untuk kemudian bagaimana
memperbaiki hal-hal tersebut.”
Ungkapnya (27/12/2017).
Peristiwa yang sangat bersejarah bagi Bangsa Sasak ini
adalah peristiwa yang dicetuskan atas kegundahan dan kegelisahan terhadap apa
yang terjadi pada Bangsa Sasak akhir-akhir ini. Maka dalam hal ini
lembaga-lembaga kebudayaan Sasak harus mengeluarkan sebuah manifesto kebudayaan
yang kemudian diganti dengan Piagam Gumi Sasak atas pertimbangan-pertimbangan
forum atau majlis-majlis kebudayaan Sasak. Piagam Gumi Sasak ini pertama kali
dibacakan pada 26 Desember 2017 oleh Dr.
Muhammad Fajri, M.A di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB). Berikut ini isi naskah dari Piagam Gumi Sasak.
PIAGAM
GUMI SASAK
BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIM
Menjadi bangsa Sasak adalah amanah
yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang.
Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan,
melalui symbol-symbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang
terhampar di Gumi Paer. Symbol-simbol yang diletakkan itu merupakan tanda-tanda
yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang
diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam
berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan , dan menistakan
keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan
penekanan, pendangkalan makna, pengetahuan jati diri, sampai pembohongan
sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingg
saat ini, melalui pencitraan budaya dan
sejarah bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan
imperialism modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa inferior
yang tak mampu tegak di antara
bangsa-bangsa lain dalam rangka
menegakkan amanat kefitrahannya sebagai
bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami
anak-anak bangsa sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut :
Pertama :
Berjuang bersama menggali dan
menegakkan jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak
Kedua :
Berjuang bersama memelihara, menjaga
dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian
kebenarannya, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga:
Berjuang bersama menegakkan harkat
dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa
Sasak menjadi bangsa yang maju dan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan
tradisionalitas.
Keempat :
Berjuang bersama membangun citra
sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi
tantangan peradaban masa depan.
Kelima :
Berjuang bersama dalam satu tatanan
masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara
Kesatuan Repuplik Indonesia.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan
kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh
umat manusia.
Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal
1437/H
26 Desember 2015
Ditandatangani bersama kami,
- Drs. Lalu Azhar
- Drs. Haji Lalu Mujtahid
- Drs. Lalu Baiq Windia M.Si
- TGH. Ahyar Abduh
- Drs. Haji Husni Mu’adz MA., Ph. D
- Dr. Muhammad Fajri, M.A
- Dr. Jamaludin, M. Ag
- Dr. Lalu Abd. Kholik, M.Hum.
- Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Hum
- Dr. H. Sudiman M. Pd
- Dr. H. L., Agus Fathurraman
- Mundzirin
- L. Ari Irawan, SE., S. PD., M. Pd.
Narasumber : 1. Murahim, M. Pd.
2. Dr. Muhammad Fajri, M.A


